Minggu, 20 Juli 2008

Cinta yang hilang

Seperti biasanya , jam 7 pagi inipun rangga masih lelap dalam tidurnya, di sebuah kamar yang gak pernah keliatan rapi sedetikpun.

"Ngga....ranggaaa...bangun ngga.." dengan sebuah kecupan di pipi, vera membangunkan rangga. "Heeem..entar maaa.." rangga mengira yang membangunkanya adalah mamanya.

"Heeh ini akuuuu.."vera mengguncang pundak rangga.

Lalu rangga bangun..dia duduk sambil melongo menatap wajah kekasih yang selama 9 bulan ini dia rindukan, dan hari ini wajah itu ada di hadapanya, rangga mencubit pipinya sendiri untuk memastikan kalo dirinya tidak sedang bermimpi, setelah kesadarannya terkumpul..

"Veeer...kapan kamu datang? kapan dari bogor?" tanya rangga sambil mengacak ngacak rambut vera, sangat tampak kebahagiaan di mata ranga.

"Jam sebelas malem!" vera menjawab singkat sambil tersenyum manis.

"Kok gak ngasih kabar mo pulang sih? aku kan bisaaaa.."rangga tidak melanjutkan kata-katanya.

"Bisa apaa..?" tanya vera.
"Yaaaa..bisa siap-siaplah." jawab rangga sambil cengengesan.

"Nggaa.. aku pengen ngomong ama kamu, ada hal penting yang harus aku omongin ke kamu, tapi aku gak mau ngomong disini, gimana kalo kita ngomong di tempat yg biasa kita datangi, kamu mau kan?" vera merajuk.

"Siap booosku yang cantik, tapi aku mandi dulu yaa!" kata rangga sambil berdiri meninggalkan kamar tidurnya yang acak-acakan, vera hanya mengangguk sambil ngeloyor keruang tamu.

Setelah selesai mandi rangga baru sadar kalo dirinya lupa membawa handuk, lalu teriak-teriak memanggil mamanya.

"Maaaaa...mamaaaaaaa...tolong ambilkan handuk maaaa!"teriak rangga.
"Yaaa...iyaaaaaa." jawab mamanya ikut-ikutan teriak.

"Ngga..rangga..nih handuknya."sambil mengetuk pintu kamar mandi sang mama memanggil anak satu-satunya itu.
"Makasih maa.." kata rangga sambil membuka pintu kamar mandi dan mengambil handuk yang disodorkan mamanya.

Setelah beres barpakaian, rangga menghampiri mamanya yang sedang mempersiapkan makanan untuk sarapan pagi.

"Maa..minta duit dooong, rangga mo jalan-jalan nie..!"kata ranga.
"Emang mo jalan kemana? tanya mama.
"Vera ngajak jalan tu ma, biasa lah ma anak muda."rayu rangga.
"Ranggaaa...rangga, sudah punya pacar kok duit masih minta mama sih" kata mama.
"Yaa..yang nyari duit kan ada papa, kan mama sendiri yang bilang kalo rangga itu gak usah mikirin duit, kuliah aja yang bener."rangga membela diri.
"Kamu ini nggaa..ngga..kalo ngomog gak mau ngalah" kata mama.

"Cepetan dong maa.." rangga mulai gak sabar.
"Iyaa..nanti mama kasih, tapi sarapan dulu dong, sekalian vera ajak makan gii."kata mama.

Setelah beres sarapan, rangga dan vera segera pamit dan mereka berdua berangkat naik motor RXking kesayangan ranga, menuju tempat yang biasa mereka datangi berdua,sebuah tempat yang sangat indah, sebuah sungai dangkal dengan airnya yang jernih dengan batu-batu besar, di lindungi dedaunan pohon-pohon besar yang tumbuh di pinggir sungai sehingga sungi itu kelihatan teduh dan sejuk.

"Ver..kita duduk dibatu itu yuk!"rangga menunjuk sebuah batu yang sering mereka duduki berdua.
Vera hanya mengangguk meng iyakan, lalu rangga memegang erat tangan kanan vera dan berjalan menyusuri pinggiran sungi menuju batu yang iya tunjuk.
Setelah sampai rangga langsung memilih tempat duduk yg deket ke air, ujung kakinya di masukan ke air sungai yang jernih, verapun mengikutunya.

"Veeer...aku tu kangeeeen banget ma kamu." kata rangga membuka pembicaraan.
Tapi vera malah diam sambil menundukan wajah.

"Loh..ver kok kamu malah diem sih, ada apa? Katanya kamu mo ngomong, ngomong apa?" rangga bertanya melihat keanehan kekasih pujaan hatinya.

"Maafin aku ya ngga!" kata vera.

Rangga melongo mendengar kata-kata vera, dahinya berkerut, hatinya semakin bertanya-tanya melihat kejanggalan yang ada.

"Kok kamu malah minta maaf, emangnya ada apa ver?" rangga kembali bertanya.
"Ak..aku." ucap vera terbata-bata.

Rangga memegang kedua tangan vera dengan lembut, sambil menatap wajah vera yang kelihatan bingung.

"Veeeeeer..kamu ngomong aja, ada apa sebenarnya? kok kamu kayak sedih gitu sih? apa sih yang mau kamu omongin?" rangga memberondong vera dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.

"Hubungan kita hanya bisa sampai disini ngga!" kata vera sambil melepaskan genggaman tangan rangga, lalu melepas cincin pertunangan dari jari manisnya dan menyerahkan cincin itu pada rangga.

Tanpa sadar rangga menirima cincin yang diberikan vera, lidahnya terasa kelu, jantungnya serasa terhenti, menerima kata-kata vera yang sama sekali tak pernah diduganya, baru berapa jam kebelakang kebahagian menyelimuti hatinya dan detik ini kebahagiaan itu terenggut tiba-tiba, tubuhnya tersandar pada batu besar, tubuhnya terasa lemas, napas terasa sesak, tubuhnya gemetar.

Setelah sadar rangga melihat vera sudah lari meninggalkanya sambil menangis.

"Veeeeeeeer....Veraaaaaaaaaaaaaaaa" ranga teriak memanggil gadis yang di cintainya.

Tapi tanpa menoleh vera lari semakin menjauh, lalu rangga berlari mengejarnya, tapi rangga terhenti ketika matanya skilas melihat sepucuk surat yang terjatuh di tanah, diambilnya surat itu lalu melihat sampul surat itu, "toek Rangga."

Rangga berniat mengejar vera tapi niat itu menjadi urung setelah melihat vera sudah naik motor ojek di pangkalan tempat rekreasi itu.

Rangga kembali melihat surat yang ada digenggamannya, lalu merobek sampulnya..perlahan rangga membuka surat itu dan membacanya.

"............ngga..maafin aku yaa...aku gak nyangka kalo pertunangan kita akan berakhir seperti ini, selama aku dibogor ternyata ayahku suka main judi dan dililit banyak utang. Aku di paksa menikah dengan org yg gak aku cintai untuk melunasi untang ayahku. Aku pernah coba kabur tapi ayahku menemukanku, aku......................"

Rangga tak sanggup membaca semua isi surat itu, tubuhnya lemas , dia terduduk ditanah, tanganya meremas kertas yang ada di tangan kanannya, lalu dia rebahkan tubuhnya di tanah, nafasnya sesak serasa dihimpit bungkahan batu besar, dari bibirnya keluar kata-kata, "TUHAN KENAPA KAU RENGGUT KEBAHAGIAAN INI DARIKU."

2 komentar:

rara mengatakan...

deuh..
Pinter juga nulis cerita. Buatan siapa tuh??
Kasihan ya si Rangga. Tapi, wanita ngga cuma satu kok. Hidup ini realita, fakta yg harus dijalanin, suka ato ngga suka.
Rajin2 nulis cerita ya :)

rara mengatakan...

It's a sad love story...